Moral Dalam
Tinjauan Pendidik
Melihat situasi bangsa yang semakin hiruk pikuk
ini, Saya terasa delima, mengapa peran pemuda saat ini tak lagi terdengungkan
layaknya pemuda di era kemerdekaan dan enam puluhan?situasi politik kian carut
marut, melambangkan paradoksi etos kerja negeri ini tertinggal dengan negera
lain, korupsi selalu terbungkus rapi walapun menggeliat di depan mata. Lagi-lagi
pendidikan yang di tuding sebagai faktor utamanya, pendidikan dinilai saat ini
kurang mampu mencetak output generasi bangsa yang mampu memberikan nilai-nila
positif dan perinsif keadilan sosial layaknya yang tertuang dalam UUD 1945.
Dalam tulisan ini, Saya pun bingung harus
menulis dari sisi yang mana, terlalu banyak fenomina-fenomina problematik di
negeri ini, jika semuanya ditulis bisa menghasilkan buka yang berjilid-jilid.
namun karena sejauh ini pendidikan merupakan institusi yang memiliki tanggung
jawa besar, terutama dalam mencetak karakter moral bangsa, Pemuda khusunya,
maka untuk mengawali tulisan singkat pada hari ini, saya menyoroti tentang
pendidikan.
Tidak usah terlalu mendifinitifkan pendidikan
dari berbagai sudut pandang ahli, cukup dengan kata ringan, bahwa pendidikan
merupakn transformasi karakter, otak, sifat, perilaku serta seluruh yang
berkaitan dengan individu seseorang. Saya yakin, jika seseorang sudah mengalami
proses pendidikan, maka paling tidak terjadi perubahan pada seseorang tersebut.
Nah perubahan-perubahan itu lah yang kemudian menjadi tujuan-tujuan pendidikan.
Tetapi ironisnya, dalam situasi yang katanya
modern ini, masih banyak individu-individu dalam aspek tertentu sudah mengalami
pendidikan tetapi tidak mencerminkan individu-individu yang berpendidikan. Jika
dilaht dalam pesfektif Islam, tujuan-tujuan pendidikan Islam salah satunya
adalah mencetak siswa untuk memiliki nilai-nilai yang selama ini tertuang dalam
ajaran islam. menjadi insan al kamil ittaqullah merupakn urgensi dari
adanya pendidikan islam. maka tentunya tugas utama pendidikan (dalam konteks Islam)
seharusnya berorientasi pada pembentukan nila-nilai dan pembentukan moral. oleh
sebab itu, baik pendidikan islam maupun pendidikan umum setidaknya dimensi
moral yang telah menjadi akar tujuan dari sebuah pendidikan itu tidak
dihilangkan, agar output (siswa) yang dicetak dapat menjadi generasi bangsa
yang kita inginkan saat ini.
Berbicara lembaga pendidikan, maka yang muncul
dalam benak kita adalah formal maupun non formal, tetapi untuk lebih
sfesifiknya kita lihat dari sisi formal saja. menurut Bloom soerang sikolog
barat yang juga ahli pendidikan, ada tiga aspik yang harus di kembangkan dalam
pendidkan. pertma, kognitif yaitu hal-hal yang berhubungan dengan
kemampuan intelektual. Bagaiman setelah terjadi proses pendidikan, intelektual
sesorang dapat berkembang dari yang sebelumnya tidak tau menjadi tau. kedua,
afektif yaitu pengembangan pada aspek perilaku, dari awalnya memiliki perilkau
buruk maka menjadi baik. dan ketiga, psikomotorik, sutau pengembangan
dibidang keterampilan, jika sebelumnya sesorang (sebelum mengalami pendidikan)
tidak bisa berbuat sesuatu maka setelah mengalami pendidika mampu melakukan/membuat
sesuatu.
Ketiga perinsip dasar tersebut jika ditarik
keranah persefektif teori sikologi dan di analogikan pada konteks keislaman, maka
kognitif atau yang biasa disebut IQ (intelektual quetion) menyangkut
pengembangan pengetahuan keagamaan, baik larangan, anjuran maupun kewajiban.
afektif atau EQ dan EQ (emosional quetion dan spiritual quetion)
mencakup dimensi intuitif yang berhubungan dengan emosi dan kejiwaan sesorang,
yang menurut imam al-Ghazali berpusat dihati (qalbu). sedangkan
psikomotorik wujud praktek sehari-hari yang mencerminkan ubudillah
(hamba Allah).
Seorang pendidik (lembaga pendidikan) hendaknya
mampu mengimplementasi pengembangan beberapa perinsif dasar pendidikan sperti
di atas, agar persoalan-persoalan yang slama ini semakin berkembang di
tengah-tengah masayarakat dapat diminimalisir. Pemuda adalah generasi penerus
bangsa, yang memiliki peranan kuat dalam merekonstruksiperjalanan negeri ini.
maka jika pendidikan tidak menatap pada persoalan yang terjadi peada pemuda
saat ini, niscya negri akan hancur oleh perilaku abmoral (KKN) yang mebeludak,
dan tidak menutup kemungkinan negeri ini akan disintegrasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar