Rabu, 09 Mei 2012


Melihat Islam Dari Sejarah

Rasullullah Saw. selain Ia sebagai Nabi penyampai risalah-risalah ketuhanan, beliau juga seorang pemimpin negara yang boleh dikatakan eksistensinya layaknya Presiden atau Raja dalam konteks sekarang. ketika Beliau dalam posisi Nabi atau Rasul, Rasulullah selalu menganggap seorang di antranya adalah Sohabat, meskipun dalam dimensi tertentu  Beliau adalah guru dari setiap Mu'min arab/non arab. kita tahu, sebutan sahabat bagi orang-orang yang semasa dengan Nabi, merupakan realita sederhana tetapi memiliki makna subtantif dan dimensi sosial yang sangat kuat.
Kata-kata Sahabat biasanya di identikkan dengan kata teman, sebutan teman dalam teori hukum sosial memiliki strata (kelas yang sama) antara yang satu dengan yang lain. tanpa memandang setatus dan latar belakang, sebutan sahabat (teman) setidaknya menghapus nilai strukturalisme dan fiodalisme (sakte sosial) yang selama itu telah membudaya dalam kahidupan sosial jahiliyah. dalam istilah tersebut juga menunjukkan, Raslullah tidak pernah beranggapan bahwa dirinya lebih menguasai ilmu pengetahuan ketimbang yang lain lantaran beliau seorang penrima wahyu, tetapi Ia menyebut sahabat pada seorang diantranya untuk menghilangkan batas-batas guru dengan murid, karena sahabat lebih dekat maknanya pada teman seperjuangan Rasulullah dalam menyampaikan ajran-ajaran islam. begitu juga seterusnya.
Disisi lain, ketika Rasulullah berada dalam posisi pemimpin negara, layaknya pemimpin negara pada umumnnya, Beliau menjadi pemimpin setiap ummah, yang notabene masyarakat arab saat itu keberadaanya sanagat hitrogen, bersuku-suku dan memiliki bermacam-macam agama. Ia tidak pernah memaksakan apa yang menjadi ajarannya untuk di ikuti oleh stiap masyarakat arab, akan tetapi beliau selalu menjadi contoh figur yang selalu mencerminkan ajaran-ajaran islam, "lakum dinukum wa liyadin". sehingga terkadang orang-orang non islam dengan sendirinya masuk islam karena melihat sosok Nabi yang begitu 'arif dan luar biasa.
Arab bukan negara islam, meliankan arab merupakan negara yang penduduknya mayoritas islam, tetapi karena arab menjadi daerah turunnya islam sering kali dinilai oleh sebagian kalangan sebagai negara islam. peristiwa piagam madinah merupakan simbol bahwa masyarakat arab pada saat itu sangat beragam, peristiwa tersebut juga mengindikasikan terjadinya kesetaraan hak masyarakat arab (baik islam non islam) dalam posisi warga negara da hadapan Rasulullah (pemimpin negara).
Oleh karena itu, dalam tulisan singkat ini, Islam itu rahmatan lil 'alamin. jika seseorang menginginkan suatu negara menjadi negara Islam, maka terlebih dahulu tanamkan dalam diri seseorang tersebut prinsip dan nilai-nilai kenabian, tanpa harus merubah ideologii suatu negara tertentu. karena Islam bisa tumbuh dan berkembang jika individu didalamnya sudah meimiliki niali-nilai yang sama sesuai dengan ajaran islam.
sejarah mencatat, islam bukan negara dan arab bukan negara islam. tetapi dalam perkembangannya terjadi lika-liku politik dan tarik menari kepentingan stiap kelompok, pada akhirnya yang dikenal sekarang ideologi yang dimiliki arab adalah ideologi islam. Jadi sangat tidak relefan, dalam konteks keindonesiaan, sebagian kelompok menginginkan indonesia menjadi negara islam. "jangan sampai salah kaprah, Islam arabisme kemudian diyakini sebagai islam murni, dan menginginkan indonesia menjadi islam arabisasi

Moral Dalam Tinjauan Pendidik


Moral Dalam Tinjauan Pendidik

Melihat situasi bangsa yang semakin hiruk pikuk ini, Saya terasa delima, mengapa peran pemuda saat ini tak lagi terdengungkan layaknya pemuda di era kemerdekaan dan enam puluhan?situasi politik kian carut marut, melambangkan paradoksi etos kerja negeri ini tertinggal dengan negera lain, korupsi selalu terbungkus rapi walapun menggeliat di depan mata. Lagi-lagi pendidikan yang di tuding sebagai faktor utamanya, pendidikan dinilai saat ini kurang mampu mencetak output generasi bangsa yang mampu memberikan nilai-nila positif dan perinsif keadilan sosial layaknya yang tertuang dalam UUD 1945.
Dalam tulisan ini, Saya pun bingung harus menulis dari sisi yang mana, terlalu banyak fenomina-fenomina problematik di negeri ini, jika semuanya ditulis bisa menghasilkan buka yang berjilid-jilid. namun karena sejauh ini pendidikan merupakan institusi yang memiliki tanggung jawa besar, terutama dalam mencetak karakter moral bangsa, Pemuda khusunya, maka untuk mengawali tulisan singkat pada hari ini, saya menyoroti tentang pendidikan.
Tidak usah terlalu mendifinitifkan pendidikan dari berbagai sudut pandang ahli, cukup dengan kata ringan, bahwa pendidikan merupakn transformasi karakter, otak, sifat, perilaku serta seluruh yang berkaitan dengan individu seseorang. Saya yakin, jika seseorang sudah mengalami proses pendidikan, maka paling tidak terjadi perubahan pada seseorang tersebut. Nah perubahan-perubahan itu lah yang kemudian menjadi tujuan-tujuan pendidikan.
Tetapi ironisnya, dalam situasi yang katanya modern ini, masih banyak individu-individu dalam aspek tertentu sudah mengalami pendidikan tetapi tidak mencerminkan individu-individu yang berpendidikan. Jika dilaht dalam pesfektif Islam, tujuan-tujuan pendidikan Islam salah satunya adalah mencetak siswa untuk memiliki nilai-nilai yang selama ini tertuang dalam ajaran islam. menjadi insan al kamil ittaqullah merupakn urgensi dari adanya pendidikan islam. maka tentunya tugas utama pendidikan (dalam konteks Islam) seharusnya berorientasi pada pembentukan nila-nilai dan pembentukan moral. oleh sebab itu, baik pendidikan islam maupun pendidikan umum setidaknya dimensi moral yang telah menjadi akar tujuan dari sebuah pendidikan itu tidak dihilangkan, agar output (siswa) yang dicetak dapat menjadi generasi bangsa yang kita inginkan saat ini.
Berbicara lembaga pendidikan, maka yang muncul dalam benak kita adalah formal maupun non formal, tetapi untuk lebih sfesifiknya kita lihat dari sisi formal saja. menurut Bloom soerang sikolog barat yang juga ahli pendidikan, ada tiga aspik yang harus di kembangkan dalam pendidkan. pertma, kognitif yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kemampuan intelektual. Bagaiman setelah terjadi proses pendidikan, intelektual sesorang dapat berkembang dari yang sebelumnya tidak tau menjadi tau. kedua, afektif yaitu pengembangan pada aspek perilaku, dari awalnya memiliki perilkau buruk maka menjadi baik. dan ketiga, psikomotorik, sutau pengembangan dibidang keterampilan, jika sebelumnya sesorang (sebelum mengalami pendidikan) tidak bisa berbuat sesuatu maka setelah mengalami pendidika mampu melakukan/membuat sesuatu.
Ketiga perinsip dasar tersebut jika ditarik keranah persefektif teori sikologi dan di analogikan pada konteks keislaman, maka kognitif atau yang biasa disebut IQ (intelektual quetion) menyangkut pengembangan pengetahuan keagamaan, baik larangan, anjuran maupun kewajiban. afektif atau EQ dan EQ (emosional quetion dan spiritual quetion) mencakup dimensi intuitif yang berhubungan dengan emosi dan kejiwaan sesorang, yang menurut imam al-Ghazali berpusat dihati (qalbu). sedangkan psikomotorik wujud praktek sehari-hari yang mencerminkan ubudillah (hamba Allah).
Seorang pendidik (lembaga pendidikan) hendaknya mampu mengimplementasi pengembangan beberapa perinsif dasar pendidikan sperti di atas, agar persoalan-persoalan yang slama ini semakin berkembang di tengah-tengah masayarakat dapat diminimalisir. Pemuda adalah generasi penerus bangsa, yang memiliki peranan kuat dalam merekonstruksiperjalanan negeri ini. maka jika pendidikan tidak menatap pada persoalan yang terjadi peada pemuda saat ini, niscya negri akan hancur oleh perilaku abmoral (KKN) yang mebeludak, dan tidak menutup kemungkinan negeri ini akan disintegrasi.