Melihat Islam Dari Sejarah
Rasullullah Saw. selain Ia sebagai
Nabi penyampai risalah-risalah ketuhanan, beliau juga seorang pemimpin negara
yang boleh dikatakan eksistensinya layaknya Presiden atau Raja dalam konteks
sekarang. ketika Beliau dalam posisi Nabi atau Rasul, Rasulullah selalu
menganggap seorang di antranya adalah Sohabat, meskipun dalam dimensi tertentu Beliau adalah guru dari setiap Mu'min arab/non
arab. kita tahu, sebutan sahabat bagi orang-orang yang semasa dengan Nabi,
merupakan realita sederhana tetapi memiliki makna subtantif dan dimensi sosial
yang sangat kuat.
Kata-kata Sahabat biasanya di
identikkan dengan kata teman, sebutan teman dalam teori hukum sosial memiliki
strata (kelas yang sama) antara yang satu dengan yang lain. tanpa memandang
setatus dan latar belakang, sebutan sahabat (teman) setidaknya menghapus nilai
strukturalisme dan fiodalisme (sakte sosial) yang selama itu telah membudaya
dalam kahidupan sosial jahiliyah. dalam istilah tersebut juga menunjukkan,
Raslullah tidak pernah beranggapan bahwa dirinya lebih menguasai ilmu
pengetahuan ketimbang yang lain lantaran beliau seorang penrima wahyu, tetapi
Ia menyebut sahabat pada seorang diantranya untuk menghilangkan batas-batas
guru dengan murid, karena sahabat lebih dekat maknanya pada teman seperjuangan
Rasulullah dalam menyampaikan ajran-ajaran islam. begitu juga seterusnya.
Disisi lain, ketika Rasulullah
berada dalam posisi pemimpin negara, layaknya pemimpin negara pada umumnnya,
Beliau menjadi pemimpin setiap ummah, yang notabene masyarakat arab saat itu keberadaanya
sanagat hitrogen, bersuku-suku dan memiliki bermacam-macam agama. Ia tidak
pernah memaksakan apa yang menjadi ajarannya untuk di ikuti oleh stiap
masyarakat arab, akan tetapi beliau selalu menjadi contoh figur yang selalu
mencerminkan ajaran-ajaran islam, "lakum dinukum wa liyadin".
sehingga terkadang orang-orang non islam dengan sendirinya masuk islam karena
melihat sosok Nabi yang begitu 'arif dan luar biasa.
Arab bukan negara islam, meliankan
arab merupakan negara yang penduduknya mayoritas islam, tetapi karena arab
menjadi daerah turunnya islam sering kali dinilai oleh sebagian kalangan
sebagai negara islam. peristiwa piagam madinah merupakan simbol bahwa
masyarakat arab pada saat itu sangat beragam, peristiwa tersebut juga
mengindikasikan terjadinya kesetaraan hak masyarakat arab (baik islam non
islam) dalam posisi warga negara da hadapan Rasulullah (pemimpin negara).
Oleh karena itu, dalam tulisan
singkat ini, Islam itu rahmatan lil 'alamin. jika seseorang menginginkan
suatu negara menjadi negara Islam, maka terlebih dahulu tanamkan dalam diri
seseorang tersebut prinsip dan nilai-nilai kenabian, tanpa harus merubah
ideologii suatu negara tertentu. karena Islam bisa tumbuh dan berkembang jika
individu didalamnya sudah meimiliki niali-nilai yang sama sesuai dengan ajaran
islam.
sejarah mencatat, islam bukan negara dan arab bukan negara islam. tetapi dalam perkembangannya terjadi lika-liku politik dan tarik menari kepentingan stiap kelompok, pada akhirnya yang dikenal sekarang ideologi yang dimiliki arab adalah ideologi islam. Jadi sangat tidak relefan, dalam konteks keindonesiaan, sebagian kelompok menginginkan indonesia menjadi negara islam. "jangan sampai salah kaprah, Islam arabisme kemudian diyakini sebagai islam murni, dan menginginkan indonesia menjadi islam arabisasi
sejarah mencatat, islam bukan negara dan arab bukan negara islam. tetapi dalam perkembangannya terjadi lika-liku politik dan tarik menari kepentingan stiap kelompok, pada akhirnya yang dikenal sekarang ideologi yang dimiliki arab adalah ideologi islam. Jadi sangat tidak relefan, dalam konteks keindonesiaan, sebagian kelompok menginginkan indonesia menjadi negara islam. "jangan sampai salah kaprah, Islam arabisme kemudian diyakini sebagai islam murni, dan menginginkan indonesia menjadi islam arabisasi